Berilmu Sebelum Berkata & Beramal

Muhammad's posts with tag: punish picture

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag punish picture
Blog Entry Rayuan Setan Dalam Pacaran Apr 15, '08 9:04 AM
for everyone

Para pembaca yang budiman, ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini merupakan fitrah (insting) yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang dinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik." (QS. Ali Imran: 14)

Adab Bergaul Antara Lawan Jenis

Islam adalah agama yang sempurna, di dalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia, bagaimana pergaulan antara lawan jenis. Di antara adab bergaul antara lawan jenis sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama kita adalah:

1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis

Allah berfirman yang artinya, "Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. an-Nur: 30). Allah juga berfirman yang artinya,"Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. an-Nur: 31)

2. Tidak berdua-duaan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya." (HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak menyentuh lawan jenis

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin)." (HR. Bukhari). Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.

Salah Kaprah Dalam Bercinta

Tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan maut yang dikenal dengan "pacaran". Allah telah mengharamkan berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam perzinaan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. al-Isra': 32). Lalu pintu apakah yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!!

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya." (HR. Bukhari & Muslim). Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang? Bukankah dengan pacaran ia sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya? Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan pacarnya? Maka farjinya pun akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggallah penyesalan. Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya...

Iblis, Sang Penyesat Ulung

Tentunya akan sulit bagi Iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian orang sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia. Iblis berkata, "Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS. Shaad: 82). Termasuk di antara alat yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia adalah wanita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita." (HR. Bukhari & Muslim). Kalaulah Iblis tidak berhasil merusak agama seseorang dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran cipika-cipiki, mungkin cukuplah bagi Iblis untuk bisa tertawa dengan membuat mereka berpacaran lewat telepon, SMS atau yang lainnya. Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang masalah agama kepada lawan jenisnya, miss called atau SMS pacarnya untuk bangun shalat tahajud dan lain-lain.

Ringkasnya sms-an dengan lawan jenis, bukan saudara dan bukan karena kebutuhan mendesak adalah haram dengan beberapa alasan: (a) ini adalah semi berdua-duaan, (b) buang-buang pulsa, dan (c) ini adalah jalan menuju perkara yang haram. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

***

Penulis: Ibnu Sutopo
Sumber: Buletin At-Tauhid

sumber : www.muslim.or.id


Blog Entryinilah kanibal sesungguhnya...Jan 18, '08 8:20 AM
for everyone

     Ghibah adalah salah satu perbuatan yang tercela dan memiliki dampak

      negatif yang cukup besar. Ghibah dapat mencerai-beraikan ikatan kasih

      sayang dan ukhuwah sesama manusia. Seseorang yang berbuat ghibah berarti

      dia telah menebarkan kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat. Walaupun

      telah jelas besarnya bahaya ghibah, tapi masih banyak saja orang yang

      melakukannya dan menganggap remeh bahaya ghibah (mengum-pat/menggunjing).

 

      Definisi Ghibah

 

      Definisi ghibah dapat kita lihat dalam hadits Rasulullah  berikut ini:

      "Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia

      benci." Si penanya kembali bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah

      pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya ?" Rasulullah 

      menjawab, "kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak

      benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada)." (HR. Muslim,

      Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

 

      Berdasarkan hadits di atas telah jelas bahwa definisi ghibah yaitu

      menceritakan tentang diri saudara kita sesuatu yang ia benci meskipun hal

      itu benar. Ini berarti kita menceritakan dan menyebarluaskan keburukan dan

      aib saudara kita kepada orang lain. Allah sangat membenci perbuatan ini

      dan mengibaratkan pelaku ghibah seperti seseorang yang memakan bangkai

      saudaranya sendiri. Allah  berfirman:

 

      " Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,

      sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu

      mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing

      sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging

      saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan

      bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi

      Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

 

 

      Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama

      dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang

      paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan

      saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

 

      Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari

      kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (Hadits

      Riwayat Ahmad, 6/450, hahihul Jami'. 6238)


MASIH MAU MAKAN DAGING SAUDARA KITA ?????

 

Sumber:

  1. Al-qur’an karim
  2. Sumber:Ummu Ziyad, S.S :  Ibnu Taimiyah, Imam Syuyuthi, Imam Syaukani,, Maktabah Al-Manar, Yordania

Blog Entrytabligh akbar 10 jan 08Jan 4, '08 7:49 AM
for everyone
Hadirilah tabligh akbar :

pada tanggal 10 januari 2008

pukul 09.00 /d selesai

tempat : Jakarta Islamic Center (JIC) koja, jakarta Utara

Tema : "Wasiat Nabi Kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu"

Pembicara : Ust. Yazid Bin Abdur Qadir Jawas

Ajak keluarga, teman dan yg laenya...

Blog Entrysms yang bikin ana senyum...^_^Jan 4, '08 5:33 AM
for everyone
jam 17.22 4/1/08
ana dapet sms dr  temen ana, Marwanto, yg isinya :

Assalamu'alaikum.Bahron!MauAkhwatgak?YanginiCuakeepAnaSerius.ItuterserahAnta.Wassalam.

      Penulis : Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani

      -rahimahullah-

 

      Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian

      perkataan mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran

      dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang

      mengikuti selain mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta, dan

      bagi orang yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan

      perkataan-perkataan mereka, sebagaimana kalau madzab-madzab dan

      perkataan-perkataan itu turun dari langit. Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

      berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan

      janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu

      mengambil pelajaran (dari padanya)". (QS. Al-Araf :3)

 

      I. ABU HANIFAH

 

      Yang pertama-tama diantara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Numan bin

      Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan

      darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, yaitu kewajiban untuk

      berpegang teguh kepada hadits dan meninggalkan pendapat para imam yang

      bertentangan dengannya.

 

      1. "Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku." (Ibnu

      Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)

 

      2. "Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami,

      selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya". (Ibnu Abdil Barr

      di dalam Al-Intiqau fi Fadha ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145)

 

      3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: "Adalah haram bagi orang yang tidak

      mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku".

 

      4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: "sesungguhnya kami adalah manusia

      yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari".

      5. "Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab

      Allah dan kabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah

      perkataanku". (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

 

      II. MALIK BIN ANAS

 

      Imam Malik berkata:

      1. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar.

      Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab

      dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan

      sunnah, tinggalkanlah". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)

 

      2. "Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

      kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan,

      kecuali Nabi Salallhu Alaihi Wasallam". (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus

      Salik, 1/227)

 

      3. Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang

      menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada

      hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia

      berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di

      dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin

      Saad dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri

      dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi

      telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah

      Shallallahu Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa

      yang ada diantara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya

      hadist ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku

      mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk

      menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu

      Abi Hatim, hal. 32-33)

 

      III. ASY-SYAFII

 

      Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafii di dalam hal ini

      lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak

      mengamalkannya. Di antaranya:

 

      1. "Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah

      Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan

      dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu

      Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda

      Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku." (Tarikhu

      Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)

 

      2. "Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang

      baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal

      baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang."

      (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)

 

      3. "Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan

      Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan

      sunnah rasulullah Salallahu alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang

      aku katakan." Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)

 

      4. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku." (An-Nawawi di

      dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)

 

      5. "kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan

      orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka

      ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah

      maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya."

      ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-SyafiI, 8/1)

 

      6. "Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi

      Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang

      aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati."

      (Al-Harawi, 47/1)

 

      7. "Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist

      Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya

      akalku telah bermadzhab dengannya." (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash

      Al-Muaddab)

 

      8. Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu alaihi wa

      sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka

      hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu

      mengikutiku." (Aibnu Asakir, 15/9/2)

 

      IV. AHMAD BIN HAMBAL

 

      Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan

      sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci

      penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu) dan pendapat Oleh

      karena itu ia berkata:

 

      1. "Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik,

      Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil."

      (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)

 

      2. "Pendapat AuzaI, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya

      adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah

      terdapat di dalam atsar-atsar." (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149)

 

      3. "Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Salallahu alaihi wa

      sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran." (Ibnul

      Jauzi, 182).

 

      Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak

      beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka

      perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu

      keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan

      sepenuhnya" (An-Nisa:65), dan firman-Nya: "Maka hendaklah orang-orang yang

      menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang

      pedih." (An-Nur:63).

 

      Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: "Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang

      yang telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Sallam

      dan mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasehati mereka dan

      memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal

      itu bertentangan dengan pendapat orang besar diantara umat, maka

      sesungguhnya perintah Rasulullah salallahu alaihi wa Sallam itu lebih

      berhak untuk disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun

      yang telah bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara

      secara salah. Dan dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka

      telah menolak setiap orang yang menentang sunnah yang sahih, dan

      barangkali mereka telah berlaku keras dalam penolakan ini. Namun demikian,

      mereka tidak membencinya, bahkan dia dicintai dan diagungkan di dalam hati

      mereka. Akan tetapi, Rasulullah Salallahu alaihi wa Sallam adalah lebih

      dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi setiap makhluk lainnya.

 

      Oleh karena itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah

      selainnya, maka perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan

      diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang

      yang bertentangan dengan perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan.

      Orang yang bertentangan itu tidak membenci apabila perintahnya itu

      diingkari apabila memang ternyata perintah Rasulullah itu bertentangan

      dengannya. Bagaimana mungkin mereka akan membenci hal itu, sedangkan

      mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya, dan mereka telah

      mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan

      dengan sunnah."

 

      (Di sadur dari Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii Salallahu alaihi wa Sallam, karya Al-Imam

      Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah).

MEREKA SAJA BERSATU DIATAS SUNNAH, MENGAPA KITA TIDAK ??

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help